Tags

, , , ,

By Purwa Hartono MSCNG BSCS.

Founder of Institute of Technology Purwadhika Nusantara

Masih ingat peristiwa “Twin Towers Tragedy” di New York pada 11 september 2001 yang sangat menggemparkan dunia dan menggores hati kita semua.  Begitu banyaknya korban lebih dari 3000 jiwa yang tidak terselamatkan.  Sebagian terperangkap di dalam gedung di atas lantai dimana pesawat itu ditabrakan.  Menurut beritanya di Wikipedia, banyak yang berusaha naik ke lantai teratas dengan harapan bisa terbebas dari sesaknya asap tebal akibat kebakaran itu dan berharap akan datangnya helikopter penyelamat tetapi sangat disayangkan kalau pintunya ternyata terkunci.

Saya secara pribadi menyesali keadaan dimana seakan semua pihak pada saat itu walaupun dalam kesungguhan upayanya untuk meyelamatkan para korban tetapi tidak bisa berbuat banyak karena kondisi lapangan kejadian yang sulit untuk dijangkau oleh para pihak seperti polisi, pemadam kebakaran, paramedik, dsbnya.  Hanya satu kalimat yang tepat untuk mengungkapkan kenyataan pahit itu yaitu “Mereka hanya manusia dengan keterbatasannya”.

Terpikirkah oleh anda apakah semua akan menjadi berbeda apabila ada robot robot yang bisa diperbantukan ?  jika ya, lalu pertanyaan berikutnya adalah “bukankah sudah ada robot robot pada saat itu ?”.  Jawabnya Ya sudah banyak tetapi sangat disayangkan bahwa robot robot itu tidak dirancang untuk situasi seperti itu.  Memang robot adalah solusi yang paling tepat untuk mengatasi masalah seperti itu.

Disinilah teknologi Cloud Computing dapat digabungkan dengan teknologi Robotika untuk menghasilkan sebuah robot baru yang lebih canggih yang kita kenal dengan nama “Cloud Robot”.  Pada saat ini memang teknologi Cloud Robot masih merupakan embrio dan masih perlu dikembangkan terus tetapi hasil yang akan dicapai sungguh sangat bermanfaat bagi kita umat manusia.  Mari kita bahas apa saja kelebihan Cloud Robot yang dimilikinya untuk dipergunakan pada situasi seperti itu:

  1. Remote Brain.  Pada Cloud Robot terjadi pemisahan antara bagian hardware robot (tubuh) dengan bagian softwarenya (otak) dan keduanya terhubung melalui internet.
  2. Unlimited Knowledge.  Karena otaknya terletak di Cloud Servers maka cloud robot ini mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang jauh lebih besar, tidak terbatas kalau bisa dikatakan, bila dibandingkan dengan robot robot sebelumnya. Pada kasus penyelematan itu tentunya akan ditemukan banyak hal hal khusus yang tak terduga terjadi sehingga robot itu harus memiliki pengetahuan yang luas sama halnya dengan seorang ahli yang penuh pengalaman.
  3. Learning on the fly. Jika robot robot sebelumnya harus diinstalasi terlebih dahulu intelegensinya pada otak lokalnya tidaklah demikian dengan cloud robot yang bisa belajar “on the fly” maksudnya belajar bersamaan pada saat diperlukan untuk dilakukan.  Ingat pada adegan di film The Matrix (1999), Trinity belajar menerbangkan sebuah helicopter dengan didownloadkan sebuah “pilot program” ke otaknya.  Hal ini tentunya bisa terjadi juga pada saat penyelematan itu.
  4. Communicating with Human. Kelebihan lainnya adalah kemampuannya untuk berkomunikasi dengan para ahli (manusia) untuk mendapatkan pengarahan atas berbagai situasi di lapangan layaknya seorang manusia penyelamat yang akan bertanya pada seorang ahli yang mengetahui tata letak ruang gedung World Trade Center tersebut. Tetapi tentunya pertanyaan yang diberikan bukanlah hal hal berupa data sederhana seperti itu melainkan mengenai keputusan keputusan penting yang harus di ambil dalam beberapa situasi khusus.
  5. Controlled by Human. Bahkan untuk situasi darurat seperti ini otaknya bisa diambil alih sementara waktu secara penuh untuk dicontrol secara manual oleh manusia (Override mode) bilamana dianggap perlu sehingga robot ini hanyalah menjadi perpanjangan tangan, kaki, mata, telinga, dan mulutnya.  Dan hebatnya si operator itu bisa berada dimana saja dibelahan bumi ini dan bisa berinteraksi tidak hanya dengan mempergunakan komputer tetapi cukup dengan sebuah smartphone saja.
  6. Artificial Intelligence capabilities. Mata cloud robot yang merupakan kamera dan telinganya yang merupakan microphone serta mulutnya yang merupakan speakers dapat dipergunakan untuk sarana komunikasi dengan para korban.  Semua yang dilihat dan didengarnya dapat ditransmisikan melalui internet ke cloud brain-nya untuk diproses selanjutnya sehingga diketahui langkah apa yang akan dilakukan berikutnya atau ke manusia yang sedang mengontrolnya.  Bayangkan betapa inteligentnya robot ini karena semua software Artificial Intelligence seperti object recognition, speech recognition, dll sudah menjadi bagian dari otaknya.
  7. Special purpose body materials. Pada saat saya berkuliah di University of Southern California (USC) pada tahun 1986, NASA mendirikan fasilitas riset di USC bekerja sama dengan para profesor untuk menemukan bahan khusus yang dapat dipergunakan untuk komponen komponen elektronik peralatan luar angkasa sehingga kebal terhadap gangguan gangguan di ruang angkasa.  Nah apalagi cloud robot untuk situasi ini harus didisain dengan bahan bahan yang tahan panas api pada temperatur yang tinggi seperti yang sudah dipergunakan pada badan bagian luar pesawat ulang alik space shuttle columbia.
  8. Shared Knowledge Database. Kelebihan lainnya adalah “Shared Knowledge Capability” antara sesama cloud robot.  Bayangkan apabila ada 100 cloud robot yang dikerahkan pada tragedi itu dan mereka tersebar di berbagai lokasi tentunya berbagi informasi sangat dibutuhkan dan semuanya itu sangat memakan waktu lama bila dilakukan antara sesama manusia karena penyampaiannya pasti melalui diceritakan langsung atau proses tanya jawab.  Tidak halnya dengan cloud robot ini yang bisa mengakses shared knowledge database itu secara langsung tanpa harus bertanya.  Bayangkan juga hebatnya dimana pengalaman pengalaman sebuah cloud robot bisa disimpan di database ini dan dipergunakan di kemudian hari apabila diperlukan oleh cloud robot lainnya.
  9. Easy brain updates or upgrades. Juga tidak sulit lagi untuk melakukan update atau perbaikan error bila dibandingkan dengan software yang dulunya terinstalasi di masing masing robot.  Hal ini akan mempermudah cloud robot untuk berubah dari satu fungsi ke fungsi lainnya tergantung dari situasi yang dihadapinya.
  10. Cheaper to build. Cloud robot ini akan lebih irit batere karena berkurangnya komponen dan proses yang harus dilakukannya.  Semua proses pengolahan data yang tadinya dilakukan oleh rangkaian otak lokalnya sudah tidak diperlukan lagi karena semua pengolahan itu terpusat di cloud sehingga semua rangkaian prosesor dan memory pada otaknya yang mahal harganya tidak diperlukan juga.

Kemudian bagian yang terpenting juga adalah bentuk fisik dari robot itu.  Kita mungkin selalu membayangkan robot yang berbentuk seperti manusia (humanoid) tetapi sebenarnya bentuk robot bisa berbagai macam tergantung dari tujuan diciptakannya.  Jadi bisa dipikirkan dalam mendisain robot tersebut seperti bagaimana robot itu akan naik ke lantai atas gedung tersebut ? apakah akan merayap seperti seekor laba laba atau terbang seperti roket ?. Bacalah artikel saya “The steps to build a Cloud Robot” jika anda ingin mengetahui bagaimana membuatnya.

Sungguh mengagumkan bukan ? dan kita berharap kalau pengembangan cloud robot ini akan segera menjadi kenyataan sehingga keselamatan dan kesejahteraan kehidupan manusia di bumi ini akan menjadi jauh lebih baik.