Tags

, ,

Rabu, 24 Agustus 2011, 11:13 WIB

Muhammad Firman, Amal Nur Ngazis

Sistem cluod dalam edukasi online sudah pernah diujicobakan di 20 sekolah di Yogyakarta. Sayangnya sempat terhenti karena bencana yang terjadi beberapa waktu lalu. (dvd-ppt-slideshow.com)

VIVAnews – Microsoft Indonesia mempunyai solusi untuk pendidikan di Indonesia. Seperti diketahui, salah satu problem yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah belum adanya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah.

Dengan platform dan aplikasi yang dimiliki, Microsoft berupaya menjembatani persoalan tersebut. Metodenya berbasis pembelajaran online lewat platform dan aplikasi Sharepoint. Dengan ini mereka mengaplikasikan komputasi awan dalam pembelajaran.

“Secara teknis, data dari sekolah disimpan dalam sebuah server yang berada di luar, kemudian baik guru maupun siswa dengan fleksibel dapat mengakses konten tersebut,” kata Sutanto Hartono, Presiden Direktur Microsoft Indonesia di Jakarta, 24 Agustus 2011.

Dengan demikian, kata Sutanto, murid, kapan pun, dan di manapun bisa mengakses materi pembelajaran.

Sistem ini, Sutanto mengklaim, akan meminimalisir kekurangan dalam pembelajaran konvensional yakni guru yang memegang peranan sentral. “Dengan metode ini, guru berperan sebagai fasilitator dengan membantu siswa mengembangkan potensinya,” ucapnya.

Siswa, kata Sutanto, dapat setiap saat mengirim pesan instan seperti lewat Yahoo Messenger ataupun Facebook dengan guru. Sebaliknya, guru juga dapat memberikan tugas melalui jalur online.

Menurut Sutanto, upaya ini juga merupakan cara untuk mengurangi masalah pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah. “Sangat sulit untuk mendapakan kualitas pembelajaran yang relatif sama di seluruh daerah,” ujarnya.

Harapannya, metode ini juga bisa diterapkan di perguruan tinggi, sehingga para mahasiswa bisa saling studi antar perguruan tinggi. “Misalnya, mahasiswa di Papua bisa belajar bersama dengan rekan-rekan dari perguruan tinggi di Bandung melalui online, tanpa harus menjadi mahasiswa di Bandung,” ucapnya.

Sebenarnya, kata Sutanto, aplikasi ini sudah diterapkan oleh lembaga pendidikan seperti Primagama. “Siswa-siswa Primagama dapat belajar dengan sistem online. Ini starting point-nya,” ucapnya. “Selain Primagama, sistem cluod online ini juga sudah diujicobakan di 20 sekolah di Yogyakarta. Sayangnya sempat terhenti karena bencana yang terjadi beberapa waktu lalu,” ucapnya.

Meski cukup inovatif, Sutanto menyebutkan, tentunya tetap terdapat kendala dalam penerapan sistem pembelajaran online ini. Menurutnya, masalah habitual dalam peralihan metode pembelajaran tersebut lah yang menjadi problem utama. “Guru banyak yang tidak menjalankan karena tidak terbiasa, sehingga berhenti di tengah jalan,” tambahnya.

Untuk itu, Microsoft menggelar program Training for Trainer, yakni melatih beberapa guru agar terbiasa menggunakan aplikasi ini. “Nantinya guru mampu menjadi pelopor konsep online,” ucapnya.

Selain soal habitual, kata Sutanto, kendala lain yang dihadapai di Indonesia adalah masalah infrastruktur, khususnya jaringan broadband yang sangat dibutuhkan untuk menjamin berjalannya sistem ini.

Saat ini, Sutanto menyebutkan, pihaknya tengah menjajaki kerjasama dengan Kementeraian Pendidikan Nasional untuk melebarkan sayap di institusi edukasi yang lain.

http://teknologi.vivanews.com/news/read/242866-cloud-computing-cocok-untuk-indonesia